AKSI NYATA 3.1.a.10. PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 

AKSI NYATA MODUL 3.1.a.10

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

(PELAKSANAAN SIMULASI PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS (PTMT))

A.     Peristiwa (Facts)

Latar Belakang Tentang Situasi Yang Dihadapi

Sejak masa pandemi COVID 19, pembelajaran berlangsung secara daring. Berbagai tantangan atau kendala dihadapi, baik oleh guru, murid dan orangtua, serta masyarakat pada umumnya. Pembelajaran yang dilakukan secara daring atau online tersebut menuntut guru untuk dapat meningkatkan kompetensinya di bidang teknologi pembelajaran,seperti penggunaan aplikasi -aplikasi pembelajaran dan sebagainya. Beberapa guru memiliki kendala dan keterbatasan dari segi pelaksanaan pembelajaran dan asesmennya. Di lain sisi,  beberapa murid juga mengalami kendala yaitu memiliki keterbatasan dalam mengakses pembelajaran secara daring disebabkan karena tidak memiliki gawai/smartphone, laptop atau bahkan tidak mampu membeli kuota internet untuk mengikuti pembelajaran. Kendala pembelajaran yang dialami oleh beberapa siswa juga diakibatkan karena menurunnya kemampuan ekonomi keluarganya. Hal ini menjadi salah satu hal yang sangat perlu diperhatikan bagi pihak sekolah. Setelah melakukan refleksi dan berdiskusi dengan beberapa siswa, saya juga memperoleh informasi bahwa sebagian besar dari mereka lebih cepat memahami materi pelajaran jika pembelajaran dilakukan secara tatap muka. Keterbatasan interaksi antara guru dan siswa pada pembelajaran juga perlu menjadi perhatian khusus pada pihak sekolah.

Kondisi pandemi COVID 19 yang belum berakhir membuat pembelajaran masih harus dilakukan secara daring. Beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi pandemi COVID 19 mulai dari kebijakan PPKM hingga pelaksanaan vaksinasi massal.  Pembelajaran tatap muka secara terbatas direncanakan akan segera dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan surat edaran Plt. Gubernur Sudirman Sulaeman untuk menyegerakan PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas), dengan syarat bahwa daerah yang diperbolehkan untuk melaksanakan PTMT adalah  daerah PPKM yang berada di level 1 sampai dengan level 3. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim  bahwa daerah dengan perberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 1-3 boleh menggelar pembelajaran tatap muka.

 Pemerintah Kabupaten Gowa menghimbau agar seluruh tenaga pendidik dan peserta didik  harus divaksin terlebih dahulu sebelum ikut proses PTMT tersebut. Namun,  Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim  menegaskan bahwa persyaratan vaksinasi tidak diwajibkan untuk peserta didik/siswa. Pihak sekolah SMA Negeri 9 Gowa  sebenarnya sudah siap untuk melakukan pembelajaran PTMT dengan menyediakan beberapa sarana pendukung yang berkaitan dengan protokol kesehatan. Bahkan, pihak sekolah menjalin kerjasama dengan pihak dinas Kesehatan, TNI dan POLRI untuk melakukan vaksinasi massal. Sekitar 76 persen siswa di SMA Negeri 9 Gowa telah divaksin. Tenaga pendidik juga sudah 86 persen yang sudah divaksin. Beberapa siswa tidak divaksin karena memiliki riwayat penyakit tertentu, dan beberapa lagi tidak divaksin karena orangtuanya tidak mengizinkan anaknya untuk divaksin karena berbagai pertimbangan. Sebagian guru juga tidak divaksin karena memiliki riwayat penyakit tertentu. Padahal, pemerintah sangat mengharapkan dan menghimbau seluruh guru atau tenaga pendidik agar melaksanakan vaksinasi agar dapat dilibatkan dalam pembelajaran tatap muka nantinya.

Pihak sekolah diminta untuk melaksanakan simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTMT) sebelum nantinya pembelajaran tatap muka secara terbatas dilaksanakan. Sementara itu, hampir semua orangtua siswa termasuk orangtua yang tidak mengizinkan anaknya divaksin juga mengharapkan pihak sekolah segera melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas(PTMT). Mereka sangat mengharapkan pembelajaran Tatap Muka Secara Terbatas (PTMT) segera dilaksanakan karena banyaknya kendala yang dihadapi oleh siswa jika pembelajaran daring terus dilakukan misalnya:  permasalahan jaringan internet, kuota terbatas,  fasilitas pembelajaran daring seperti smartphone yang tidak tersedia, kurangnya interaksi antara siswa dan guru, dan sebagainya. Pihak sekolah berada dalam posisi dilematis dalam melaksanakan simulasi pembelajaran tatap muka, apakah guru yang belum divaksin dilibatkan dalam pelaksanaan simulasi PTMT. Jika mereka tidak dilibatkan, pelaksanaan simulasi PTMT tidak akan berjalan maksimal. Di satu sisi, peserta didik sudah siap mengikuti simulasi tapi guru mereka sebagian kecil belum divaksin. Guru yang lain akan merasa diperlakukan tidak adil karena hal tersebut. Sementara itu, jika mereka dilibatkan, maka pihak sekolah dan orang tua serta siswa juga akan merasa khawatir karena siswa dan guru rentang terkena COVID 19.

Saya sebagai bagian dari SMA Negeri 9 Gowa merasa berkewajiban untuk membantu pihak sekolah menemukan solusi atau keputusan yang paling tepat untuk masalah tersebut. Untuk itu saya ingin melakukan sebuah aksi nyata yaitu mencoba analisis studi kasus dengan menggunakan pemahaman dan keterampilan yang saya dapatkan mengenai pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Gambar 1. Pembelajaran Daring (Beberapa siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran karena terkendala biaya dan kendala lainnya)

Gambar 2. Sosialisasi Kebijakan PTMT dan vaksinasi massal kepada warga sekolah dan orangtua

Alasan Melakukan Aksi Nyata

Adapun alasan untuk melakukan aksi nyata ini yaitu karena adanya suatu masalah yang dihadapi yaitu  berkaitan dengan pelibatan guru dalam pelaksanaan simulasi PTMT, apakah guru yang belum divaksin dilibatkan dalam simulasi pembelajaran Tatap Muka secara Terbatas (PTMT) atau tetap melaksanakan pembelajaran secara daring. Alasan lain dilakukannya aksi nyata tersebut adalah untuk menerapkan pengetahuan yang telah didapatkan mengenai pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dan agar terbiasa menyelesaikan masalah dilema etika dan bujukan moral dengan menggunakan kaidah pengambilan keputusan yang tepat. Selain itu, saya berharap melalui aksi nyata ini, rekan-rekan sejawat yang ada di sekolah dapat menjadikannya sebagai contoh dalam pengambilan keputusan ketika mereka menghadapi masalah.

Bentuk Aksi Nyata Yang Dilakukan

Dengan adanya permasalahan yang dihadapi, akhirnya saya melakukan pengambilan keputusan dengan mengidentifikasi permasalahan yang  dihadapi terlebih dahulu, kemudian melakukan analisis studi kasus dengan memperhatikan 3 prinsip, 4 paradigma serta 9 langkah pengambilan keputusan. Dari 9 langkah pengambilan keputusan yang telah dilaksanakan, maka diperoleh keputusan terkait dengan permasalahan yang dihadapi yaitu melaksanakan simulasi pembelajaran tatap muka secara terbatas (PTMT) dengan mengelompokkan siswa menjadi dua untuk setiap kelas dengan jadwal pembelajaran sistem ganjil genap dan melibatkan guru yang sudah divaksin dalam simulasi tersebut serta memberikan kesempatan kepada guru yang belum divaksin untuk melaksanakan pembelajaran secara daring. Keputusan yang diambil merupakan keputusan yang sudah bulat dan dianggap paling tepat. Dengan keputusan yang diambil tersebut, pelaksanaan pembelajaran Tatap Muka secara Terbatas (PTMT) dapat berjalan dengan lancar. Penyebaran COVID 19 dapat diminimalisir atau dikurangi. Guru yang belum divaksin masih dapat melaksanakan pembelajaran. Langkah selanjutnya, saya mengkomunikasikan hasil yang diperoleh dengan warga sekolah terutama dengan orang tua siswa untuk merefleksikan keputusan yang diambil, dan memastikan keputusan yang diambil sesuai dengan visi misi sekolah yang sudah disepakati bersama.

Adapun paradigma yang digunakan dalam pengambilan keputusan tersebut yaitu paradigma rasa kasihan lawan rasa keadilan (Justice VS Mercy) dan prinsip yang digunakan yaitu Prinsip Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care Based Thinking). Beberapa opsi atau alternatif penyelesaian yang lain yang dapat dilakukan yaitu:

1.      Membuat jadwal  simulasi PTMT tersendiri untuk guru yang belum divaksin, dengan protokol kesehatan yang lebih ketat

2.      Guru yang belum divaksin melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan media atau aplikasi yang lebih interaktif seperti google meet, zoom dan sebagainya



Gambar 3. Melakukan Identifikasi Masalah Dan Analisis Studi Kasus




 Gambar 4. Mengkomunikasikan hasil analisis studi kasus kepada rekan sejawat dan warga sekolah lainnya

Hasil Aksi Nyata

Setelah melakukan aksi nyata tersebut diperoleh solusi atau keputusan terkait masalah yang dihadapi yaitu melaksanakan simulasi pembelajaran tatap muka secara terbatas (PTMT) dengan mengelompokkan siswa menjadi dua untuk setiap kelas dengan jadwal pembelajaran sistem ganjil genap dan melibatkan guru yang sudah divaksin dalam simulasi tersebut serta memberikan kesempatan kepada guru yang belum divaksin untuk melaksanakan pembelajaran secara daring

Selain menghasilkan keputusan terkait masalah yang dihadapi, saya dan rekan guru lainnya juga mendapatkan pengalaman dan pengetahuan menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan yang dilengkapi dengan pengujian benar dan salah dari keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi dalam pembelajaran. Tentunya hal tersebut akan menjadi bekal bagi kami sebagai pemimpin pembelajaran untuk menyelesaikan suatu masalah.





Gambar 5. Penyampaian Keputusan Terkait Kegiatan Simulasi PTMT Kepada Pihak

 Orang Tua



Gambar 6. Pelaksanaan Simulasi Pembelajaran Tatap Muka Secara Terbatas (PTMT)



Gambar 7. Pembelajaran Daring bagi Kelompok Siswa yang Belajar Dari Rumah

B.      Perasaan (Feelings)

Selama melaksanakan aksi nyata ini, saya begitu bersemangat sekali dalam menjalankannya. Saya sangat antusias dan bersemangat dalam mengindentifikasi dan menganalisis kasus berdasarkan 9 langkah pengambilan keputusan. Sementara itu, Saya cukup senang dan antusias dengan keputusan pemerintah terkait rencana pelaksanaan PTMT. Namun, saya juga dilema karena masih ada beberapa guru yang belum divaksin tapi pemerintah telah mengeluarkan himbauan untuk pelaksanaan simulasi pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT),dengan persyaratan semua guru telah divaksin.

 

C.      Pembelajaran (Finding)

 

Dari aksi nyata yang dilakukan, saya lebih memahami bahwa pengambilan keputusan dari suatu dilema etika harus mempertimbangkan prinsip, paradigma dan diputuskan melalui langkah-langkah pengambilan keputusan yang didalamnya terdapat uji benar/salah dari keputusan yang diambil sehingga keputusan yang diambil merupakan keputusan yang paling tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Prinsip, paradigma dan 9 langkah pengambilan keputusan yang telah diterapkan dalam aksi nyata ini menjadi bekal bagi guru dalam menyelesaikan masalah-masalah dilema etika yang dihadapinya terutama sebagai pemimpin pembelajaran. Prinsip dan paradigma yang digunakan seseorang dalam mengambil keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya. Modul 3.1 yang telah dipelajari ini telah menambah pengetahuan dan keterampilan saya sebagai seorang guru dalam emngambil keputusan yang tepat.

Beberapa kegagalan atau kendala yang saya hadapi memberikan pelajaran akan pentingnya suatu perencanaan yang matang  dan pelibatan semua pihak yang berkepentingan. Keberhasilan dalam melaksanakan aksi nyata ini menyiratkan suatu pembelajaran berharga bahwa dalam menyelesaikan suatu masalah atau membuat suatu keputusan haruslah dengan langkah-langkah yang tepat agar keputusan yang diambil juga tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.

D.     Penerapan Ke Depan (Future)

Sebagai tindak lanjut dari aksi nyata yang dilakukan tersebut, maka saya akan melakukan beberapa rencana perbaikan yaitu sebagai berikut:

1.      Melakukan refleksi terkait pembelajaran yang telah dilaksanakan

2.      Melakukan komunikasi secara intensif dengan rekan sejawat dan pihak orangtua

3.      Melaksanakan sosialisasi secara berkala terkait kebijakan sekolah kepada orangtua siswa dan masyarakat

 

Komentar