AKSI NYATA 3.3.a.10. PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID (PROGRAM P-LITA MERDEKA)

 

AKSI NYATA MODUL 3.3.a.10

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

PROGRAM: P-LITA MERDEKA (POJOK LITERASI SISWA MERDEKA)

(SEBUAH ARTIKEL REFLEKSI)

A.     Peristiwa (Facts)

Latar Belakang Tentang Situasi Yang Dihadapi

SMA Negeri 9 Gowa merupakan salah satu sekolah yang telah lama melaksanakan Gerakan Literasi Sekolah. Kegiatan literasi yang dilaksanakan di SMA Negeri 9 Gowa berupa kegiatan membaca buku dan/atau Al-Qur’an selama 15 menit setiap hari dan dilakukan sebelum memulai pembelajaran. Kegiatan literasi telah dilaksanakan dengan cukup konsisten namun kegiatannya lebih dominan kepada kegiatan membaca saja, padahal bentuk literasi sangat beragam.  Keterbatasan sarana dan prasarana literasi menjadi salah satu kendala yang selama ini dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan literasi di SMA Negeri 9 Gowa.  Media literasi yang digunakan pada kegiatan literasi di SMA Negeri 9 Gowa  sangat terbatas dan cenderung hanya berfokus pada buku yang disediakan oleh perpustakaan sekolah. Selain keterbatasan media literasi yang digunakan,  selama ini kegiatan literasi hampir seluruhnya diselenggarakan atas prakarsa dan arahan dari guru-guru di sekolah. Siswa dengan beragam bakat dan minatnya belum diberi ruang yang cukup untuk dapat mengembangkan bakat dan minatnya terutama dalam hal kegiatan literasi.  Hal inilah yang menyebabkan kemampuan literasi dan kemandirian siswa belum dapat berkembang sepenuhnya.

Di satu sisi, SMA Negeri 9 Gowa sebenarnya memiliki banyak aset utama yang dapat dimanfaatkan dalam mengoptimalkan kegiatan literasi sekolah. SMA Negeri 9 Gowa memiliki beberapa tempat atau lahan yang masih kosong di sekolah yang dapat dijadikan sebagai tempat atau sarana dalam melakukan kegiatan literasi. Sudut-sudut kelas juga merupakan tempat yang cukup potensial untuk dijadikan sebagai pojok literasi. Di samping itu, banyak siswa yang memiliki bakat yang beragam yang sangat mendukung pelaksanaan literasi di sekolah. Oleh sebab itu, saya selaku Calon Guru Penggerak ingin membuat program literasi yang lebih memerdekakan siswa dengan membuat pojok literasi dengan beragam kegiatan literasi sesuai minat dan bakat mereka yaitu program “Pojok Literasi Siswa Merdeka (P-Lita Merdeka)”. Program ini memberikan kebebasan atau kemerdekaan bagi siswa dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui kegiatan literasi, dimana ide, perencanaan sampai dengan bentuk dan tema literasi ditentukan oleh siswa.

Alasan Melakukan Aksi Nyata.

Aksi nyata ini dilakukan berdasarkan beberapa alasan dan beberapa pertimbangan yaitu: 1) Program ini dilaksanakan untuk meningkatkan kemandirian pada diri siswa. 2) Pelaksanaan literasi yang berkesinambungan melalui kegiatan yang beragam diharapkan dapat meningkatkan kemampuan literasi siswa dan mendorong terwujudnya budaya literasi di sekolah.  3). Pojok literasi sangat penting untuk dibuat karena merupakan sarana pendukung utama terlaksananya kegiatan literasi di sekolah secara optimal.

Bentuk Aksi Nyata Yang Dilakukan

          Program “Pojok Literasi Siswa Merdeka (P-Lita Merdeka)" adalah suatu program sekolah yang bermanfaat bagi siswa terutama dalam peningkatan kompetensi literasi dan kemandirian siswa. Program “Pojok Literasi Siswa Merdeka (P-Lita Merdeka)” ini didahului oleh pembuatan pojok literasi di sudut-sudut kelas oleh masing-masing siswa dari setiap kelas kemudian dilanjutkan dengan pembuatan pojok literasi di luar kelas oleh OSIS yang berkolaborasi dengan seluruh organisasi ekstrakurikuler lainnya. Pojok literasi di luar kelas dibuat di tempat/ di lahan-lahan kosong yang potensial untuk dijadikan tempat untuk melakukan kegiatan literasi. Kegiatan literasi dalam program ini meliputi kegiatan literasi dalam kelas dan kegiatan literasi di luar kelas. Kegiatan literasi dalam kelas dilaksanakan selama 15 menit setiap hari sebelum pembelajaran dimulai, sedangkan kegiatan literasi di luar kelas dilakukan pada saat pembelajaran di kelas telah berakhir. Jadwal dan pembagian kelas literasi di luar kelas dibuat atau disusun oleh siswa yang menjadi panitia pelaksana.

          Siswa melakukan literasi dalam bentuk kegiatan yang beragam, mulai dari membaca buku atau artikel, membuat tulisan, berdiskusi tentang topik-topik yang sedang hangat diperbincangkan di Indonesia atau di dunia, maupun melakukan analisis terhadap suatu permasalahan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Siswa diberi kesempatan mencari topik-topik literasi setiap pekan.

Berikut ini adalah tahapan-tahapan yang dilalui mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan dan tindak lanjut dari program  “Pojok Literasi Siswa Merdeka (P-Lita Merdeka)”

1.      Melakukan analisis kebutuhan siswa dengan mengajak siswa untuk melakukan rapat untuk penentuan dan penyusunan program

   


Gambar 1. Rapat koordinasi awal bersama siswa membahas penentuan program
2. Melakukan sosialisasi kepada seluruh warga sekolah dan orangtua siswa

Gambar 2. Sosialisasi Program

3.      Menyusun rencana program bersama OSIS dan perwakilan siswa lainnya


 

Gambar 3. Rapat Penyusunan Rencana Program

4. Membuat manajemen resiko untuk mengelola resiko yang mungkin dihadapi

 

Gambar 4. Menyusun manajemen resiko

5.      Pelaksanaan program

a.      Siswa membuat pojok literasi di dalam dan di luar kelas



                                

Gambar 5a. Pembuatan Pojok Literasi

b.      Siswa melaksanakan literasi di dalam kelas

Gambar 5b. Literasi Di Dalam Kelas

c.       Siswa melaksanakan literasi di luar kelas



Gambar 5c. Literasi di Luar Kelas

6.      Melakukan monitoring dan evaluasi


Gambar 6. Melakukan evaluasi program setelah melaksanakan monitoring

7.      Menyusun laporan

Gambar 7. Menyusun laporan kegiatan/program

8.      Refleksi dan tindak lanjut


Hasil Aksi Nyata

Aksi nyata yang telah dilakukan dalam bentuk program “Pojok Literasi Siswa Merdeka (P-Lita Merdeka)” memberikan dampak yang luar biasa bagi siswa. Program ini telah mampu meningkatkan kemandirian  dan kemampuan literasi bagi siswa. Pelibatan siswa dalam program ini dengan tingkat keterlibatan sekitar 90% berdampak kepada peningkatan kemandirian pada diri siswa.

Melalui program “Pojok Literasi Siswa Merdeka (P-Lita Merdeka)” , sarana dan prasarana untuk pelaksanaan kegiatan literasi menjadi lebih banyak dan beragam. Dengan demikian, kegiatan literasi dapat dilakukan secara optimal.  Sementara itu, pelaksanaan kegiatan literasi yang berkesinambungan dan dilaksanakan dalam kegiatan yang beragam telah membentuk budaya positif yang baru di lingkungan SMA Negeri 9 Gowa yaitu budaya literasi yang secara tidak langsung telah meningkatkan kemampuan literasi pada siswa.

B.      Perasaan (Feelings)

Selama merencanakan aksi nyata atau program “Pojok Literasi Siswa Merdeka (P-Lita Merdeka)” ini, saya merasa sangat bersemangat, antusias dan percaya diri. Timbulnya motivasi dari dalam diri untuk membuat perubahan di sekolah melalui program yang berdampak pada siswa membuat saya semakin bersemangat dan antusias untuk melaksanakan program ini secara optimal. Saya sangat senang melihat semangat dari siswa  yang terlibat dalam program ini. Mereka begitu antusias ketika mereka diajak untuk berkolaborasi dalam menyusun atau merencanakan program ini. Hal tersebut, membuat saya semakin termotivasi dan semangat untuk menyusun dan melaksanakan program. Hal serupa juga saya alami selama melaksanakan aksi nyata/program tersebut.. Saya sangat bangga dan senang program aksi nyata ini telah mampu meningkatkan kemandirian dan kemampuan literasi pada diri siswa. Mudah-mudahan program “Pojok Literasi Siswa Merdeka (P-Lita Merdeka)” ini dapat dilakukan secara berkelanjutan di sekolah.               

C.      Pembelajaran (Finding) 

Beberapa hal menarik yang ditemukan selama program dilaksanakan dan merupakan suatu bentuk keberhasilan dari program ini yaitu munculnya beragam sudut pandang siswa dalam menilai dan memberikan pendapat terhadap suatu topik. Selain itu, siswa lebih berani dalam mengungkapkan pendapat atau tanggapannya terhadap suatu topik permasalahan. Selain itu, dari kegiatan “Pojok Literasi Siswa Merdeka (P-Lita Merdeka)” juga ditemukan bahwa banyak siswa SMAN 9 Gowa yang kreatif dan memiliki bakat menulis. Hal tersebut dibuktikan dari tulisan-tulisan yang dibuat atau dipasang pada majalah dinding di pojok literasi kelas mereka.

Namun, di sisi lain ada beberapa siswa yang tidak berpartisipasi dalam kegiatan terutama kegiatan literasi di luar kelas yang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena siswa memiliki agenda kegiatan lain di luar sekolah, misalnya mengikuti les dan sebagainya. Dalam pembuatan pojok literasi, ada 1-2 organisasi ekstrakurikuler yang tidak dapat berpartisipasi dengan baik karena bertepatan dengan jadwal program yang lain.

Semua pengalaman yang didapatkan selama perencanaan dan pelaksanaan program ini menjadi pembelajaran berharga dalam melaksanakan program-program selanjutnya. Beberapa pembelajaran lain yang saya dapatkan selama melaksanakan program, diantaranya yaitu: 1) program membutuhkan sebuah perencanaan (planning) yang matang, 2) dalam menyusun program, perlu memperhatikan manajemen resiko untuk mengelola resiko yang kemungkinan akan muncul dalam pelaksanaan program. 3) pelaksanaan program perlu dimonitoring dan dievaluasi serta ditindaklanjuti melalui MELR (Monitoring, Evaluation, Learning dan Reporting). 4) Pemetaan dan pemanfaatan aset dengan baik akan menentukan dan mendukung terlaksananya program dengan baik.

      D.   Penerapan Ke Depan (Future)

Program “Pojok Literasi Siswa Merdeka (P-Lita Merdeka)” yang telah berjalan diharapkan dapat  dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain itu, program ini diharapkan menjadi suatu program yang dapat membuka wawasan dan memberi ruang-ruang kemerdekaan bagi anak dalam mengungkapkan pendapat, gagasan atau pandangan mereka.

Beberapa langkah konkret yang akan  dilakukan sebagai rencana perbaikan dan tindak lanjut dari program tersebut yaitu:

1.      Melakukan refleksi terkait program yang telah dijalankan

2.      Mengoptimalkan seluruh aset-aset yang ada di sekolah untuk mendukung keberlanjutan dari program tersebut, misalnya perpustakaan, laboratorium TIK untuk literasi digital, siswa yang berbakat dalam menulis artikel dan sebagainya.

3.      Program ini akan dilanjutkan dengan program pembuatan pojok literasi digital yang akan dilaksanakan melalui kolaborasi dengan komunitas sastra yang ada di sekolah (KONTRAS) agar hasil-hasil literasi yang diperoleh dari kegiatan literasi dapat dimanfaatkan lebih lanjut.

4.      Pojok literasi di luar kelas akan ditambah dan dibuat semenarik mungkin agar siswa lebih tertarik lagi dalam melakukan literasi

 

 

 

Komentar